Senin, 04 Juni 2012


Kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam keberhasilan tim. Tanpa ini, suatu tim akan tersesat. Kepemimpinan didefinisikan dalam banyak cara. Semua definisi tersebut mengandung satu unsur yang sama yaitu seorang pemimpin  adalah seorang yang menggunakan pengaruh yang lebih besar daripada anggota kelompok lainnya.
Gaya-gaya kepemimpinan yang berbeda dibicarakan disini. Analisa kritis penguasa yang otoriter melawan yang demokratis serta yang berorientasi pada orang melawan yang berorientasi pada tugas semua dibahasnya. Pelatih yang berhasil dapat menggunakan model-model kepemimpinan yang cocok dengan kepribadiannya sendiri yang sesuai dengan keadaan.
Kepelatihan saat ini bukanlah tugas yang mudah. Bahkan kepelatihan merupakan profesi yang penuh tantangan dan selalu berubah. Pelatih yang berhasil selalu bersedia menerima informasi-informasi baru, namun tetap dapat mengenali pendekatan tradisional yang paling sesuai.
Pelatih yang berhasil menguasai seni dan ilmu berkomunikasi dengan olahragawan dan asisten pelatihnya. Mereka mendapatkan kepercayaan dari olahragawannya melalui kemampuan mendengar aktif. Mereka dapat membina keseimbangan antara berorientasi pada tugas dan berorientasi pada olahragawan dan keseimbangan ini menjadikan mereka selalu menang.

A.    Teori Kepribadian
Menurut Richard H. Cox dalam Husdarta (2010:19)  ada tiga pendekatan teori utama dalam studi kepribadian yaitu teori Psiko-dinamik (Psichodinamic theory) , teori sifat (traits theory), dan teori belajar asosial (sosial learning theory).
Teori Psiko-dinamik. Teori ini sering disebut Psychoanalyse atau Freud Theory. Freud dalam teorinya menyebutkan bahwa tingkah laku manusia adalah interaksi antara tiga alat-alat dalam pribadi yaitu Id, Ego dan Superego.
Teori sifat (traits theory). Psikolog yang mengedepankan teori ini adalah Gordon W. Allport. Menurut Alport , sifat menunjukan pada predisposisi untuk membuat penyesuaian tingkah laku melalui cara-cara yang khas. Traits dipandang sebagai sesuatu yang stabil, lestari dan konsisten terhadap berbagai situasi yang berbeda.Teori ini akan memperlihatkan kebutuhan untuk mencapai sukses individu yang menunjukan predisposisi untuk menginternalisasi kesediaan berkompetisi, mempertahankan diri, dan berkembang dalam banyak situasi.
Teori belajar sosial ( social learning theory). Sumber teori belajar sosial dapat dirunut dari teori belajar yang diluncurkan Clark Hull,  (R.H.Cox, 1985) dalam Husdarta (2010:20) . Dua tema utama dari mekanisme teori belajar sosial dari Hull adalah individu belajar pemodelan (modeling) dan penguatan social.

  
B.     Pendekatan Kepribadian
Satiadarma (2000:34) mengatakan. Sejauh ini para psikologik memandang aspek kepribadian dari sejumlah sudut pandang yang secara garis besar terdiri atas 3(tiga) pendekatan, yaitu:
1.    Pendekatan “trait”
Penganut pandangan ini mengemukakan bahwa seorang juara sudah memiliki “trait” (yaitu meliputi aspek seperti kebutuhan untuk berprestasi, kecenderungan kecemasan dan keinginan untuk mendominasi) sebagai seorang juara, sehingga ia berupaya keras dalam latihan, memiliki kebutuhan untuk berprestasi tinggi, tidak mengenal menyerah dan sebagainya.
2.   Pendekatan situsional
Teori ini sesungguhnya dilandasi teori belajar instrumental. Jadi, perilaku seorang atlet akan berubah jika lingkungannya mengalami perubahan. Namun pada kenyataannya terutama pada atlet bintang (elite athletes) mereka tidak mudah berubah sekalipun diberikan perlakuan berbeda. Atau mereka dapat menentukan perubahan perilaku mereka tanpa banyak dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.
3.      Pendekatan interaksional
Penganut pandangan interaksional beranggapan bahwa faktor pribadi individu yang bersangkutan dan faktor lingkungan berperan secara bersama-sama dalam menentukan tingkah laku atlet.

C.    Faktor – faktor yang mempengaruhi kepribadian
Faktor keturunan (heriditer). Faktor yang bersifat genetik ini hampir diyakini oleh berbagai kalangan memberikan pengaruh terhadap kepribadian. Anak-anak yang dilahirkan dari orang tua yang berkiprah dalam dunia seni, memiliki kemungkinan besar bakat olahraga atau seninya akan diturunkan kepada anaknya dan akan mengikuti kiprah orang tuanya sebagai olahragawan atau seniman.
Faktor fisik (organo-biologic). Faktor ini masih berkait dengan faktor keturunan, meliputi stuktur anantomis, fisiologi, fungsi otot dan perkembangannya yang kesemuanya dapat mempengaruhi pencapaian prestasi olahraga.
Faktor psiko-edukatif (psycho educative) berkaitan dengan kejiwaan manusia dalam perkembangan seseorang disebut proses pendidikan, baik wilayah pendidikan formal, informal maupun non formal. Selama proses pendidikan diharapkan terpenuhinya kebutuhan psikologis, sosiologis dan biologis.
Faktor sosio-kultural ( socio-cultural). Faktor ini  bersumber dari lingkungan sosial budaya setempat. Ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan bahwa kepribadian dan prestasi atlet ditentukan oleh lingkungan sosial budaya.
Faktor spiritual (spiritual factor). Faktor yang berhubungan dengan sistem keyakinan hidup, keyakinan agama dan moral. Seorang atlet/siswa akan lebih jujur dan lebih sportif jika ia memiliki keyakinan diri yang kuat yang bersumber dari keyakinan hidup  dan agamanya.

D.    Sifat-Sifat Kepribadian Atlet
Setiap pelatih perlu memahami sifat-sifat kepribadian atlet yang dibinanya, agar dapat memberi perlakuan yang setepat-tepatnya, misalnya dalam memberi peringatan atau hukuman terhadap atlet yang disiplin tidak dapat disamakan dengan atlet yang tidak disiplin.
Sifat-sifat kepribadian bukanlah hal yang bersifat tetap, tetapi dapat berubah dan dapat mempengaruhi. Bruce C. Ogilvie dalam Setyobroto (2002:34) melaporkan hasil studinya terhadap perenang kelompok umur di California yang mengikuti program latihan mengadapi pertandingan. Hasil studi untuk meneliti perubahan sifat-sifat kepribadian perenang laki-laki dan perempuan umur 10-14  tahun dibandingkan atlet-atlet top umur 19 tahun menunjukan atlet-atlet top tersebut.
1.      Self – controlnya lebih baik, lebih dapat menguasai diri
2.      Menjadi lebih bersifat terbuka, mudah bergaul dan lebih dapat menyemarakkan suasana.
3.      Kemampuan menolak kecemasan (anxiety) lebih tinggi secara meyakinkan
4.      Lebih mampu untuk menjaga diri sendiri
5.      Tampak lebih gembira dan bahagia dalam menghadapi suatu keadaan
6.      Kurang mementingkan diri sendiri dan lebih stabil
Memahami sifat-sifat atlet sesuai dengan sifat-sifat kejiwaan yang perlu dimiliki atlet untuk dapat mencapai prestasi tinggi adalah sangat penting, karena dengan demikian akan memudahkan dalam mencari atlet-atlet berbakat untuk cabang-cabang olahraga tertentu.        
E.     Gaya  Kepemimpinan Pelatih
Menurut Pate dkk dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Dwijowinoto, seseorang tidak perlu mengamati terlalu banyak pelatih untuk sampai pada kesadaran bahwa tedapat berbagai macam kepemimpinan yang berhasil. Sebagian pemimpin tampak dingin dan tak acuh, sedangkan yang lain hangat dan penuh perhatian. Sebagian mengakui hak otonom bawahannya , yang lain mengawasinya dengan ketat , daftar faktor-faktor tersebut banyak sekali namun untuk konteks sekarang ini , tekanan diberikan pada dua aspek jenis kepemimpinan yaitu :
1.      Gaya kepemimpinan yang otoriter versus demokratis
2.      Gaya yang berpusat pada manusia
Gaya kepemimpinan otoriter versus demokratis bertahun-tahun lamanya para peneliti berusaha menetukan kepemimpinan yang demokratis atau otonom secara khusus, pelatih otoriter :
1.      Menggunakan kekuasaan untuk mengendalikan orang lain.
2.      Memerintah yang lain dalam kelompok.
3.      Berusaha agar semuanya dikerjakan menurut keyakinan.
4.      Bersikap tidak mengorangkan orang.
5.      Menghukum anggota yang mengabaikan/menyimpang.
6.      Memutuskan pembagian pekerjaan.
7.      Menentukan bagaimana pekerjaan dilaksanakan.
8.      Memutuskan kebenaran ide.
Sebaliknya , pemimpin yang demokratis umumya:
1.      Bersikap ramah, bersahabat.
2.      Membiarkan kelompok sebagai keseluruhan membuat rencana.
3.      Mengijinkan anggota-anggota kelompok untuk berinteraksi dengan yang lain.
4.      Menerima saran-saran.
5.      Berbicara sedikit lebih banyak dari pada anggota kelompok.
Dalam mempelajari gaya kepemimpinan seseorang perlu menyadari bahwa pemimpin perlu harus berada di satu ujung atau ujung lain. Gaya kepemimpinan tertentu dapat saja digunakan pada tingkatan yang berbeda pada situasi berlainan. Banyak pelatih memperlihatkan kombinasi gaya tersebut dan ada keuntungan dan kerugian untuk masing-masing gaya terebut.
1.      Mereka dilihat perannya sebagai orang otoriter.
2.      Mereka orang yang memiliki keinginan yang besar untuk mengatur orang lain dan menjatuhkan pilihan pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
3.      Situasi kepemimpinan yang penuh tekanan yang timbul disebagian besar pengawasan pelatih atas para peserta.
4.      Olahragawan-olahragawan tertentu menghendaki sikap yang otoriter dari pelatihnya, sehingga pelatih bersikap sedemikian agar memebuhi harapan olahragawan tersebut. Dengan demikian dapatlah dipahami kalau kepemimpinan otoriter itu sangat umum di dunia olahraga.
Penelitian yang ada menunjukan bahwa gaya kepemimpinan otoriter itu menguntungkan dalam situasi tertentu. Penelitian ini menunjukan bahwa gaya ini mungkin lebih disukai bilamana kecepatan dan gerakan amat dibutuhkan. Demikian pula dengan kelompok besar yang terlibat dengan tugas-tugas rumit yang dirasa penting, gaya kepemimpinan otoriter mungkin amat mengutungkan . gaya ini juga  menjadikan waktu digunakan lebih efektif dan menjadikan olahragawan yang merasa was-was merasa lebih aman dan terlingdungi dalam situasi yang menekan
Namun ada beberapa kelemahan yang menyolok dalam gaya otoriter. Secara umum, diperlukan lebih banyak kerja , tetapi kualitas lebih kecil bila dibandingkan dengan hasil peimpin demokratis. Anggota tim cenderung menunjukan kekurangan biasaanya dan kekurang semangatnya bertempur.   
Pemimpin demokratis pun juga mempunyai alasan untuk memimpin dengan gaya mereka sukai. Mereka percaya bahwa :
1.      Setiap individu berfungsi sebagai mahluk sosial.
2.      Setiap individu berfungsi sebagai pribadi yang menyeluruh dan utuh, bukan sebagai rangkaian dari bagian-bagian.
3.      Setiap individu memiliki cita-cita, tujuan dan nilai-nilai yang membangkitkan tingkah laku.
4.      Gaya demokratis akan membantu menambah keliatan serta kepuasan anggota. Pelatih yang menggunakan gaya demokratis ciri khasnya ialah bahwa gayanya akan secara efisien memberikan kesempatan perkembangan pendidikan olahragawannya. Nilai terpenting diberikan pada kebebasan berfikir dan nilai olahraga yang menyertai. Secara tak langsung interaksi antar sesama dan komunikasi merupakan kunci keberhasilan dalam olahraga maupun dalam kehidupan nantinya.
Gaya demokratis juga memiliki kelemahan. Untuk jangka pendek , ini mungkin bukan cara terefektif untuk memanfaatkan waktu. Mungkin hal ini menjadi masalah bagi pelatih yang hanya mempunyai waktu dua minggu menyiapkan tim untuk pertandingan pertama. Bila dibandingkan dengan kepemimpinan yang otoriter, kepemimpinan demokratis bisa mengurangi sikap agresif, suatu sifat yang mungkin penting dalam sebagian olahraga. Akhirnya, gaya demokratis bisa kurang efisien bila keputusan mendadak harus dibuat dan diterima.
Sebagian ringkasan jelaslah ada keuntungan dan kerugian pada kedua gaya kepemimpinan tersebut. Sebagian besar pemimpin yang berhasil dalam olahraga kenyataanya tidak berada secara penuh dalam satu ujung atau pun ujung yang lainnya. Mereka menggunakan keuntungan  kedua gaya hal tersebut bila gaya tersebut yang terbaik untuk menyelesaikan tugas dan menambah semangat serta perkembangan tim. Ini berarti pelatih yang berhasil dapat meniru gaya kepemimpinan otoriter selama masa latihan dan masa pertandingan perebutan. Namun mereka dapat juga sangat demokratis dan manusiawi sebelum atau sesudah masa latihan terjadwal, pada masa liburan atau sebelum istirahat dalam masa latihan. Pelatih yang sukses menggunakan gaya kepemimpinan yang luwes yang memungkinkan memenuhi peran kepelatihan yang beragam.
Pelatih harus ingat bahwa tanggung jawab utamanya adalah memotivasi tiap olahragawan untuk mencapai potensi tertingginya.



siklus asam lemak glukosa
para ilmuwan olahraga secara tradisional percaya bahwa mengatur metabolisme lemak ide metabolism.this karbohidrat berasal dari penelitian oleh randle.in tahun 1960 yang menunjukkan bahwa peningkatan asam lemak pada tikus berkurang glikolisis oleh aksi penghambatan asetil KoA pada kegiatan piruvat kinase PFK suatu proses yang disebut siklus asam lemak glukosa. hal ini telah menjadi subyek perdebatan. Coyle tidak setuju dengan konsep ini, yang mereka merasa mendapat dukungan kecil dalam studi manusia
Holloszy mengatakan bahwa meskipun kesimpulan coyle.did tampaknya tidak kompatibel dengan bukti luas bahwa peningkatan plasma FFA (asam lemak bebas) mengurangi pemanfaatan karbohidrat (47). ia mengutip penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan tingkat FFA memperlambat penipisan glikogen otot di kedua manusia dan hewan. Dyck, misalnya menunjukkan bahwa laki-laki diberi infus lipid menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam FFA beredar dan 20% sampai 76% hemat dari glikogen otot selama 15 menit bersepeda bout.indeed, hemat glikogen oleh pemanfaatan peningkatan FFA dan metabolisme oksidatif lemak selama latihan adalah dianggap sebagai efek menguntungkan dari pelatihan daya tahan
kita akan lihat nanti dalam bab ini bahwa jalur aerobik tampaknya lebih aktif pada anak dibandingkan adults.traditionally ketergantungan ini mungkin lebih besar dari anak-anak pada oksidasi asam lemak telah dianggap sebagai fenomena standar karena penghambatan utama jalur glikolitik pada yang muda. apakah mungkin, namun bahwa rendahnya tingkat glikolisis pada anak-anak mungkin hanya mencerminkan penghambatan dikenakan oleh metabolisme aerobik atasan mereka? yang dilakukan anak-anak yang kurang mengandalkan metabolisme anaerobik karena mereka tidak perlu aerobik dan anaerobik metabolisme timbal balik pada anak-anak? jika demikian, yang merupakan faktor pendorong??
pianosi berpikir bahwa jika tingkat superior metabolisme aerobik adalah faktor utama, orang dewasa harus diharapkan untuk menunjukkan tingkat yang lebih tinggi piruvat dalam darah selama latihan dengan laktat stabil untuk ratio.that piruvat adalah hambatan besar untuk masuk ke dalam siklus Krebs akan jelas pada orang dewasa dibandingkan dengan peneliti chlidren.the diperiksa laktat darah dan tingkat piruvat selama latihan dalam tiga kelompok usia subyek, <7 tahun, 11 sampai 14 tahun dan 15 sampai 17 years.values ​​ditentukan saat istirahat, segera setelah 6 menit latihan di salah satu ketiga dan Twi sepertiga dari kapasitas kerja maksimal dan dua pertiga dari kapasitas kerja maksimal dan 20 menit tingkat postexercise.lactate dengan latihan meningkat dengan usia, sementara konsentrasi piruvat yang stabil. ini mengakibatkan peningkatan rasio laktat untuk piruvat dengan bertambahnya usia temuan ini. menunjukkan bahwa peningkatan yang lebih besar dalam laktat untuk perbaikan utama dalam fungsi glycoltic daripada penurunan kapasitas metabolisme aerobik
Rowland dan Cunningham mempelajari hubungan aerobik (VO2 max per kilogram) dan kesesuaian anaerobik (50 lari waktu) dengan thershold anaerob ventilasi (PPN) selama protokol treadmill progresif berjalan di children.VAT dinyatakan sebagai persentase dari VO2 max biasanya lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa, yang mungkin dapat dijelaskan dengan baik lebih besar kebugaran aerobik anak atau capacity.in anaerobik rendah studi ini, PPN sebagai persentase dari VO2 max ditemukan berkorelasi terbalik dengan kedua VO2 max per kilogram (r =- 77) dan kinerja berlari (r =- 63) ini menunjukkan. bahwa PPN anak yang lebih besar sebagai persentase dari VO2 max adalah refleksi terutama kapasitas rendah anaerobik mereka, karena tingkat yang lebih besar kebugaran aerobik akan terkait dengan PPN relatif lebih rendah tidak lebih tinggi
Seperti Cooper dan Barstow menunjukkan juga, efek penghambatan kebugaran aerobik pada kapasitas glikolitik mungkin terjadi pada sub tingkat latihan maksimal tetapi pengaruh tidak akan diharapkan pada penanda glikolisis (seperti laktat puncak) pada tingkat latihan yang melelahkan.. Data ini , kemudian mendukung hipotesis bahwa tingkat rendah fungsi glikolitik diamati pada anak-anak mewakili utama daripada fenomena metabolik sekunder

metabolisme aerobik
sedangkan kapasitas glikolitik tampaknya meningkatkan selama perkembangan biologis, mesin metabolisme aerobik tampaknya slacken.this kesimpulan ini didasarkan pada studi hewan menunjukkan efek ukuran tubuh pada tingkat metabolisme dan didukung oleh laporan penurunan konten enzim selular aerobik dan mungkin mitokondria kepadatan dengan usia pada anak-anak. mengidentifikasi perubahan dalam metabolisme aerobik yang membatasi kinerja ketahanan sebagai anak-anak tumbuh, namun lebih bermasalah
istirahat metabolic rate
tingkat metabolisme basal istirahat atau diasumsikan untuk mewakili jalur seluruhnya aerobik transfer energi melalui oksidasi asam lemak (pertukaran rasio pernafasan sekitar 0,70). studi tingkat metabolisme basal (BMR) dalam hubungan dengan ukuran tubuh memiliki perbedaan dalam metabolisme aerobik dipastikan di tingkat istirahat

kita diperkenalkan pada Bab 1 konsep bahwa RMR relatif terhadap ukuran tubuh lebih besar pada hewan dewasa kecil daripada yang besar. kuda memiliki tingkat metabolisme saat istirahat yaitu sekitar 1.200 kali dari mouse, tetapi tikus memiliki kerabat metabolicrate untuk massa tubuh yang 10 kali dari horse.over yang rentang ukuran mamalia, tingkat metabolisme istirahat berhubungan dengan massa tubuh oleh eksponen skala 0,75. hal ini secara matematis menunjukkan bahwa sebagai meningkatkan massa tubuh, sehingga tidak istirahat tingkat metabolisme tetapi pada kata-kata rate.in relatif lebih lambat lainnya, tingkat metabolisme istirahat dinyatakan relatif terhadap massa tubuh menurun sebagai massa tubuh menjadi larger.expressed allometrically, BMR per kilogram berkaitan
dengan halangan disini adalah bahwa dengan teori dimensi dan hipotesis mekanistik, RMR diperkirakan berhubungan dengan massa tubuh oleh eksponen 0,67 0,75 tidak. perbedaan, lama sumber kekhawatiran yang cukup oleh para ahli biologi dan berbagai upaya pada penjelasan, tetap unreconciled (lihat referensi untuk diskusi penuh 89)
sama mengaburkan arti fisiologis eksponen 0,75 itu self.in 1982, Heusner berkomentar "tiga puluh tahun kerja eksperimental dengan pendekatan ini telah gagal untuk menawarkan segala arah untuk memahami signifikansi fisiologis dari persamaan alometrik (untuk BMR) dalam atau luar bidang metabolisme energi, suatu situasi yang mengilustrasikan pernyataan Claude Bernard: empirisisme dapat berfungsi untuk mengumpulkan fakta-fakta tetapi tidak pernah akan membangun ilmu pengetahuan
dia dan yang lainnya memiliki potongan penjelasan tradisional bahwa hewan perlu untuk menghasilkan panas untuk pertandingan yang hilang dengan luas permukaan untuk menjaga suhu tubuh stabil (hukum permukaan). penjelasan ini menyiratkan bahwa, dalam mode melingkar luas permukaan tubuh hewan menjadi determinan kedua tingkat metabolisme dan panas yang hilang dari tubuh. ini, heusner mengatakan, melanggar hukum kedua termodinamika, yang memegang panas yang merupakan konsekuensi dari metabolisme dan bukan penyebabnya
kita membahas eksponen filogenetik skala sini, variabel skala antara orang dewasa spesies mamalia. seperti yang dibahas dalam bab 1, kita berharap bahwa eksponen ontogenetik, yang menggambarkan hubungan yang antara variabel fisiologis dan ukuran tubuh selama pertumbuhan menjadi berbeda dan ini memang terjadi ketika kita memeriksa skala alometrik beristirahat tingkat metabolisme untuk massa tubuh pada anak-anak

dari beberapa penelitian, Holliday diturunkan kurva untuk hubungan tingkat metabolisme basal dengan peningkatan massa tubuh pada anak-anak eksponen massal ditemukan menjadi 1,02 (Rati standar) sampai kira-kira 10 kg,. tapi eksponen berubah menjadi 0,58 antara 10 dan 20 kg. luar ukuran itu, hubungan alometrik antara massa dan BMR belum berhasil tetapi dapat diasumsikan untuk menjadi serupa. sebagai bukti jika BMR dinyatakan relatif terhadap luas permukaan tubuh, yang berhubungan, penurunan progresif terlihat dengan usia BMR menurun dari 52 kal pada usia 6 pada laki-laki menjadi 43 kal pada usia 18.. nilai masing-masing pada wanita adalah 50 dan 36 kal
secara jelas, kemudian, BMR anak-anak berbeda dari yang besar dengan cara yang sama seperti yang terlihat pada anak hewan 8 tahun menunjukkan relatif tingkat metabolisme istirahat secara signifikan lebih tinggi untuk ukuran tubuhnya dari old.there 13 tahun yang dua kemungkinan penjelasan untuk pola perkembangan: baik proses metabolisme aerobik dalam sel individu yang lebih intens pada anak kecil (yaitu tingkat metabolisme aerobik seluler berbanding terbalik dengan ukuran tubuh) atau organ metabolisme nya aktif mewakili proporsi yang lebih besar dari massa tubuhnya (dalam hal usia atau massa perbedaan dalam tingkat metabolisme oxudative seluler akan dianggap
berbagai organ melakukannya, pada kenyataannya, memiliki tingkat metabolisme yang berbeda dan itu juga diakui bahwa persentase massa tubuh disumbangkan oleh orang-orang yang paling aktif secara metabolik tidak berkurang seperti ukuran tubuh menjadi greater.in mouse, misalnya, hati merupakan 6 % dari massa tubuh, sementara di gajah itu adalah lebih dekat ke 1,6%. namun perbedaan ini cukup untuk menjelaskan tingkat metabolisme massa tubuh lebih rendah relatif dalam binatang yg berkulit tebal itu?
untuk menjawab pertanyaan ini, schmdit-Nielsen meneliti persamaan alometrik untuk tingkat massa metabolisme spesifik yang paling organ metabolisme yang penting diri mereka sendiri dalam hal massa tubuh.

Permainan Bolavoli
Permainan bolavoli merupakan suatu permainan regu yang sangat menarik (awalnya untuk mengisi waktu senggang) dan termasuk ke dalam kelompok permainan menyerang dan bertahan dan dimainkan oleh dua regu yang berlawanan (Blume, 2004:2). Bolavoli merupakan permainan yang dimainkan oleh dua regu atau kelompok yang masing-masing regu terdiri dari enam orang pemain. Mereka berhak melakukan service, passing atas, passing bawah, smash dan block.
Peraturan PBVSI (Tahun, 2005:7) menyatakan bahwa:
”Permainan bolavoli dimainkan dua regu yang masing-masing regu terdiri dari enam orang. Tiap-tiap regu berusaha meraih poin pada tiap set yang sudah ditentukan. Untuk mendapatkan poin (angka) tiap pemain (atlet) berusaha untuk mematikan bola di daerah regu lawan, apakah itu dengan service, smash, block, passing serta tipuan.
Hal ini sejalan yang dikemukakan (Yunus, 1992:68) bahwa teknik dasar dalam permainan bolavoli yaitu (1) service, (2) passing, (3) umpan, (4) smash, (5) block (bendungan)”.
Permainan Bolavoli dimainkan pada lapangan yang berukuran panjang 18 meter dan lebar 9 meter, dengan tinggi net 2,43 meter untuk putera dan 2,24 meter untuk puteri. Permainan ini melibatkan hampir semua bentuk gerakan yang bersifat melompat, memukul dan gerakan eksplosif lainnya.
Pada dasarnya permainan bolavoli mempunyai prinsip penyerangan dan bertahan. Kemampuan dan penguasaan teknik dasar merupakan persyaratan untuk mampu melaksanakan penyerangan dan pertahanan. Penguasaan teknik dasar serta kemampuan mengaplikasikan pada taktik, penyerangan dan pertahanan ditentukan oleh kualitas kondisi fisik dari setiap pemain.
Perkembangan teknik terjadi dalam smash. Dalam permainan bolavoli sekarang bukan hanya pemain depan saja yang berfungsi melakukan serangan, tetapi pemain belakang pun mampu melakukannya. Tentu saja pelaksanaannya serangan seperti itu tidak melanggar peraturan.
Dalam permainan bolavoli, seorang atlet sangat dituntut untuk dapat melakukan smash dengan baik, karena smash merupakan senjata utama untuk mendapatkan angka dan seninya permainan bolavoli terletak dari smash-smash yang dilakukan pemain. Untuk dapat melakukan smash yang baik harus didukung oleh faktor kondisi fisik.


 Keterampilan Smash Bolavoli
Keterampilan dalam olahraga merupakan “suatu proses gerakan dan pembuktian dalam praktik sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas dengan pasti dalam cabang olahraga” (Suharno,1982:12). Teknik adalah “suatu cara untuk melakukan dan melaksanakan sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien” (Yunus, 1992:103).
Keterampilan smash bolavoli yaitu kemampuan penguasaan teknik smash bolavoli. Dengan demikian teknik smash dalam permainan bolavoli dapat diartikan sebagai cara memperlakukan bola dengan efektif dan efisien dalam melakukan smash. Hal ini dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan peraturan permainan yang berlaku dalam mencapai suatu hasil yang optimal.
Smash pada hakekatnya merupakan suatu pukulan keras yang dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan bola di udara di atas net  yang diarahkan pada suatu sasaran tertentu di lapangan lawan. Viera dkk (2004:71) menyatakan bahwa smash keras merupakan bagian yang amat penting dan menarik pada permainan bolavoli.
Untuk melakukan smash yang sukses harus melompat ke udara dan dengan tajam memukul objek yang bergerak (bola) melewati rintangan (net) sehingga bola mendarat dalam suatu daerah yang dibatasi (lapangan). Hal ini juga merupakan teknik yang paling sulit untuk dipelajari dari semua teknik dalam permainan bolavoli, dimana membutuhkan gerakan yang menuntut koordinasi dari berbagai sub gerak, dan gerakan memukul bola merupakan bagian dari rangkaian gerakan yang ditampilkan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa smash sebenarnya merupakan keterampilan yang esensial sebagai cara mematikan bola ke petak lawan. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa smash bolavoli adalah suatu keterampilan memukul bola sambil melompat secara keras dengan menggunakan telapak tangan dari atas menuju ke bawah (menukik). Untuk mendapakan smash yang keras dan menukik tersebut, smasher harus meloncat dan memukul bola di atas ketinggian net dengan koordinasi gerakan yang baik.

Melakukan smash tentunya membutuhkan kecepatan meloncat dan memukul bola. Dalam gerakan smash diperlukan kelentukan, dengan lenturnya persendian menambah tenaga yang dihasilkan, serta lincahnya pergerakan melakukan smash, sehingga dengan mudah mengarahkan bola ke petak lawan.
Smash dalam permainan bolavoli merupakan suatu teknik gerakan yang kompleks terdiri beberapa unsur. Beustelsthal (2005:25-28) mengatakan bahwa teknik melakukan smash bolavoli dirinci ada empat fase yang meliputi: (a) fase run up atau awalan, (b) fase take off atau melompat, (c) fase hit atau pukulan, (d) fase landing atau mendarat.
Penjelasan tersebut sejalan dengan Durrwachter dalam Akhmad (2006:12) yang mengatakan bahwa proses gerakan keseluruhan dalam smash dapat diuraikan: (1) pengambilan ancang-ancang, (2) langkah tumpuan, susulan lalu loncat, (3) pada saat lengan terayun tubuh melengkung ke belakang dan siku agak ditekuk, (4) pada saat memukul tubuh atas dengan lengan direntangkan, dan (5) menyentuh lantai kembali dengan kedua kaki. Dengan demikian bahwa teknik smash bolavoli dapat dibagi menjadi fase awalan, tolakan, pukulan dan mendarat. Walaupun demikian pandangan mata harus selalu mengarah pada gerak bola sepanjang smash.
Viera dkk (2004:76) melihatnya dari sisi teknik, smash bolavoli dapat dikelompokkan pada tiga tahapan, yaitu: (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) gerakan lanjutan.
(1)     Persiapan
Mulai mendekat ketika bola telah mencapai setengah dari perjalanannya menuju pemain. Kemudian langkahkan kaki kira-kira dua langkah terakhir adalah langkah kanan dan langkah pendek atau melangkah untuk meloncat. Ayunkan kedua lengan kebelakang sampai setinggi pinggang yang bertumpu pada dua kaki. Pindahkan berat badan dan kemudian ayunkan lengan kedepan dan ke atas. Durrwachter dalam akhmad (2006:12) menyarankan bahwa arah gerak ancang-ancang yang paling baik adalah 45-600 terhadap jaring.
Suharno (1988:50) menganjurkan juga bahwa setelah meloncat kedua kaki dalam keadaan relaks dan tangan kanan berada di samping atas kepala agak ke belakang dan lengan diusahakan lurus dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan sedang tangan kiri berada di samping depan kepala kira-kira setinggi telinga.
(2)     Pelaksanaan
Memukul bola dengan lengan lurus dan jangkauan sepenuhnya. Bola dipukul tepat berada di depan bahu memukul dan dengan telapak tangan yang terbuka. Pukul bola pada bagian belakang tengahnya dengan menekukkan tangan sepenuh tenaga. Tangan mengarahkan bola pada bagian atas.
Untuk mendapatkan pukulan yang keras, lengan harus dibengkokkan dan ditarik ke depan, mulai dengan bagian siku, disusul oleh lengan bawah dan pergelangan tangan diluruskan pada saat kontak dengan bola. Lengan kiri mula-mula diangkat tinggi guna menjaga keseimbangan badan, kemudian diayun ke bawah bersama-sama dengan lengan.
Keberhasilan smash tidak hanya diukur dengan kerasnya pukulan, melainkan ketepatan menjadi bagian terpenting. Pukulan dapat terarah dan tepat apabila bola yang dipukul dengan perkenaan bagian belakang atas telapak tangan terbuka disertai lecutan pergelangan tangan. Ketepatan saat memukul dengan jangkauan raihan tangan cukup optimal. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya faktor tinggi badan dan jangkauan raihan.
(3)     Gerakan Lanjutan

Mata tetap mengawasi bola ketika memukul, selanjutnya mendarat ke lantai dengan bertumpu pada kedua kaki. Lutut sedikit dibengkokkan untuk menyerap tenaga. Selanjutnya jagalah titik keseimbangan badan agar tidak menyentuh atau menginjak serta melewati garis net. Kesalahan ini akan sangat merugikan pemain, sebab kecenderungan lawan akan memperoleh keuntungan atau angka. Jatuhkan tangan dengan penuh tenaga ke pinggul. Kemudian bersiap-siap kembali untuk mengantisipasi permainan selanjutnya.Menurut Heck yang ditulis Mulyana (2002:128), gerakan smash waktu memukul bola meliputi: (1) gerakan batang badan ke belakang, otot yang bekerja adalah erector spinae, (2) gerak batang badan pada waktu memukul bola, otot yang bekerja adalah abdominalis, (3) gerakan ayunan lengan untuk meloncat, otot-otot yang bekerja adalah latissimus dorsi, pectoralis, dan bicep brachi, (4) gerak waktu memukul bola, otot-otot bahu yang bekerja adalah shoulder extension dan wrist flexion.
Keberhasilan melakukan smash tidak hanya diukur kerasnya hasil pukulan bola, tetapi faktor ketepatan keras dan cepatnya pukulan ke arah sasaran. Hasil pukulan bisa terarah dan cermat, apabila bola terbuka disertai lecutan pergelangan tangan. Kecepatan gerakan dan kelincahan saat memukul bola yang optimal harus diperhatikan.
Menurut Cox dalam Mulyana (2002:129) terdapat beberapa hal yang terjadi penentu dalam kualitas motorik smash bolavoli, di antaranya adalah dukungan faktor kecepatan gerak. Kecepatan bergerak berkenaan dengan kemampuan yang memungkinkan dapat melaksanakan gerakan-gerakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, untuk mencapai hasil gerak yang sebaik-baiknya.
Agar dapat dapat melakukan smash yang baik, pemain harus mempunyai daya jangkau yang tinggi, loncatan yang tinggi, tangan yang kuat, kelentukan togok dan kelincahan yang diperlukan pemain agar pemain mampu memantau dan membayangi bola yang diumpan tosser, sehingga bisa menempatkan bola yang di pukul sesuai sasaran dan menghindari block dari regu lawan serta melakukan variasi serangan.
2.    Daya Ledak Otot Tungkai
Kondisi fisik yang harus dimiliki oleh atlet atau olahragawan yang berprestasi hendaknya memperhatikan unsur‑unsur kondisi fisik yang dimaksud. Seperti kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, koordinasi dan beberapa unsur lainnya. Unsur kondisi fisik yang didukung oleh dua komponen kondisi fisik kekuatan dan kecepatan sering dikatakan daya ledak (explosive power). Seperti dikatakan oleh Harre (1982:126) bahwa: “Daya ledak yaitu kemampuan atlet untuk mengatasi tahanan dengan suatu kecepatan kontraksi tinggi. Kontraksi otot yang tinggi diartikan sebagai kemampuan otot yang kuat dan cepat dalam berkontraksi".
Bahkan Sujoto (1985:8) mengatakan bahwa: "daya ledak otot merupakan kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek‑pendeknya. Daya ledak itu sendiri diartikan oleh Harsono (1988:58) adalah "kemampuan komponen fisik kekuatan dan kecepatan yang bekerja dalam waktu yang bersamaan. Daya ledak tersebut akan dapat terjadi bila kondisi fisik Pada unsur kekuatan dan kecepatan dimilikinya bekerja secara bersamaan. Jadi kalau hanya kekuatan saja yang dimilikinya tanpa dibarengi dengan kecepatan maka, daya ledak tersebut tidak akan dapat tercapai dengan baik
Menurut Bowers dalam Arsil (1999:24), daya tahan otot merupakan kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menyokong kerja (beban) selama waktu tertentu (muscular endurance) yang ditentukan oleh: a) kekuatan otot, b) jumlah bahan yang ada dalam otot, dan c) istirahat yang cukup.
Pendapat Garbard dalam Arsil (1999:19) mengatakan bahwa daya tahan terdiri dari daya tahan otot dan daya tahan kardiorespiratori. Daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot untuk melakukan kontraksi secara berulang (menjalankan kerja) melalui periode waktu bertahan yang cukup sampai otot menjadi lemah. Menurut Bompa dalam Arsil (1999:45) mengemukakan bahwa kekuatan terbagi atas: (1) kekuatan umum,             (2) kekuatan khusus, (3) kekuatan maksimal, (4) kekuatan daya tahan, (5) kekuatan absolute, dan (6) kekuatan relative.
Daya ledak merupakan sebagai kemampuan kombinasi kekuatan dengan kecepatan yang terealisasi dalam bentuk kemampuan otot yang mengatasi beban dengan kecepatan kontraksi yang tinggi (Jonath dan Krempel 1981:31). Menurut (Rushal dan Pyke, 1990:252) daya ledak diartikan sebagi suatu fungsi dari kekuatan dan kecepatan gerakan. Menurut (Bompa, 1990) daya ledak sebagai produk dari dua kemampuan, yaitu : kekuatan (strength) dan kecepatan (speed) untuk melakukan force maksimum dalam waktu yang sangat cepat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa daya ledak merupakan perpaduan atau kombinasi antara kekuatan dan kecepatan untuk mengatasi beban atau hambatan dengan kecepatan konstraksi yang tinggi. Dalam permainan Bolavoli komponen daya ledak merupakan hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan banyaknya komponen daya ledak digunakan ketika atlet dalam melakukan smash.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas ada dua unsur penting dalam daya ledak, yaitu (1) kekuatan otot dan (2) kecepatan otot, dalam mengarahkan tenaga maksimal untuk mengatasi hambatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan daya ledak adalah perpaduan atau kombinasi antara kekuatan dan kecepatan yang mengatasi beban atau tahanan dengan kecepatan kontraksi otot yang tinggi. Dengan demikian, jelaslah bahwa daya ledak mengandung unsur kekuatan dan kecepatan. Kekuatan mengambarkan kemampuan otot untuk mengatasi beban atau tahanan, sedang kecepatan menunjukkan kemampuan kontraksi otot dalam mengatasi beban dengan cepat. Dan daya ledak otot tungkai ini sangat dibutuhkan dalam permainan bolavoli terutama saat melakukan smash.
3.    Koordinasi Mata Tangan
Koordinasi adalah kemampuan menggabungkan sistem saraf gerak yang terpisah dengan merubahnya menjadi suatu pola gerak yang efisien. Makin komplek suatu gerakan, maka makin tinggi tingkat koordinasinya. Bompa (1990), mengatakan bahwa koordinasi adalah  suatu kemampuan biomotorik yang sangat komplek, saling berhubungan dengan kecepatan, kekuatan, daya tahan, dan kelentukan. Kecenderungan orang selama ini mengartikan  koordinasi sebagai kemampuan seseorang untuk merangkai beberapa unsur gerakan menjadi suatu gerakan yang selaras sesuai dengan tujuannya.
Di sisi lain, PBVSI (1995:61) mengemukakan koordinasi adalah kemampuan atlet untuk merangkai beberapa gerak menjadi satu gerak yang utuh dan selaras. Pusat pengaturan koordinasi di otak kecil (cerebulum) dengan proses dari pusat saraf tepi ke indra dan terus ke otot untuk melaksanakan gerak yang selaras dan utuh otot synergies dan antogonis. Koordinasi adalah kemampuan untuk memproduksi kinerja baru sebagai ramuan dari berbagai gerak sebagai sistem saraf dan otot yang bekerja secara harmonis. (Harsuki, 2003:54).
Sementara Suharno (1986:56), menyatakan koordinasi adalah kemampuan seseorang untuk merangkaikan beberapa unsur gerak menjadi satu gerakan yang selaras sesuai dengan tujuannya. Koordinasi adalah kemampuan untuk menyelesaikan tugas motorik secara cepat dan terarah yang ditentukan oleh proses pengendalian dan pengaturan gerakan serta kerjasama sistem persarafan pusat. (Syarifuddin, 1999:62). Kemudian Kiram (1999:95), menyatakan koordinasi dari pemberian atau penyebaran impuls tenaga dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu: (1) koordinasi pemberian impuls tenaga kepada bagian otot yang membutuhkan, (2) koordinasi untuk mengkoordinir dan memanfaatkan seluruh impuls tenaga yang diberikan atau disebarkan kepada otot-otot menjadi suatu kesatuan tenaga yang cukup besar dapat disalurkan sesuai dengan kebutuhan untuk pelaksanaan atau pemecahan tugas-tugas gerak.
Dari sudut fisiologis, koordinasi gerak merupakan perwujudan pengaturan terhadap proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui sistem persarafan atau disebut dengan intra muscular coordination, (Kiram, 1999:86). Selanjutnya Kiram, (1999:97). Untuk itu perlu dihimpun suatu tenaga dengan mengkoordinasikan tenaga-tenaga dari alat-alat gerak atau bagian-bagian tubuh yang lain. Pembangunan tenaga yang cukup besar tersebut dimulai dari alat geraka atau bagian tubuh tertentu yang diteruskan ke bagian-bagian tubuh yang lain yang membantu pembangunan tenaga yang cukup besar, kemudian dikoordinasikan dan dihimpun serta disalurkan ke otot-otot.
a.    Jenis-Jenis Koordinasi
Bompa (2000:380), mengklasifikasikan koordinasi, yaitu:                                          
(1) koordinasi umum, menentukan kemampuan seseorang untuk melakukan berbagai keterampilan motorik secara rasional, terlepas dari kekhususan olahraga. Setiap atlet mengikuti perkembangan yang multilateral akan mendapatkan koordinasi umum yang mencukupi. Koordinasi umum adalah sebagai basis untuk pengembangan koordinasi khusus atau spesifik, (2) koordinasi spesifik, menggambarkan kemampuan seseorang untuk melakukan berbagai gerakan dengan cepat, mudah, sempurna dan tepat. Koordinasi motorik yang khusus atau spesifik berhubungan erat dengan keterampilan-keterampilan ke cabang olahraga.
Menurut Syafruddin (1999:62) membagi jenis-jenis koordinasi sebagai berikut: (1) koordinasi otot inter, yaitu koordinasi antar otot-otot yang bekerjasama dalam melakukan suatu gerakan. Kerjasama dimaksud adalah kerjasama antar otot agonis dengan antagonis dalam suatu proses gerakan yang terarah; (2) koordinasi otot intra, yaitu merupakan koordinasi yang terjadi dalam otot yang tidak dapat diamati, karena prosesnya terjadi di dalam otot manusia. Sedangkan PBVSI (1995:62) membagi jenis-jenis koordinasi menjadi empat bagian, yaitu: (1) merangkaikan beberapa gerak menjadi satu gerakan yang utuh dan serasi; (2) adanya gerak yang kontra antara gerak yang satu dan gerak lainnya. Kerja otot sinergi dan otot antagonis harus serasi; (3) gerak-gerak tangan kanan dan kiri saling bergantian, begitu pula dengan gerak kaki kanan dan kiri yang selalu bertentangan arah; (4) kerja secara simultan dan harmonis antara susunan saraf, indra dan otot.
b.   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Koordinasi
Bompa (2000), menyebutkan bahwa koordinasi dapat dipengaruhi oleh: (1) daya pikir, atlet terkenal bukan hanya mengesankan dengan keterampilan yang menakjubkan atau kemampuan motorik yang baik, tetapi juga dengan ide dan caranya memecahkan masalah motorik dan taktik yang komplek, (2) kecakapan dan ketelitian organ pada indera (sensoris), analisa motorik dan sensor kinestetik serta keseimbangan irama kontraksi otot merupakan faktor yang penting dalam hal koordinasi, (3) pengalaman motorik, direfleksikan melalui berbagai keterampilan yang tinggi adalah suatu faktor penentu dalam kemampuan koordinasi seseorang, atau kemampuan untuk belajar secara cepat, (4) tingkat perkembangan kemampuan biomotorik, seperti kekuatan, kecepatan, daya tahan dan kelentukan ikut mempengaruhi koordinasi.
c.    Fungsi Koordinasi
Sehubungan dengan fungsi koordinasi, Kiram (1994:8) mengatakan bahwa dengan adanya koordinasi maka:
“a) Dapat melaksanakan gerakan secara efektif dan efisien. Efektif dalam kaitan ini berhubungan dengan efisiensi penggunaan waktu, ruangan dan energi, dalam melaksanakan suatu gerakan. Sedangkan efektif berkaitan dengan efektivitas proses yang dilalui dalam mencapai tujuan; b) dapat memanfaatkan kondisi fisik secara optimal dalam memecahkan tugas gerakan; c) persyaratan untuk dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan gerakan; d) persyaratan untuk dapat menguasai keterampilan motorik olahraga tertentu”.
Lebih lanjut PBVSI (1995:61) mengemukakan fungsi koordinasi antara lain: (1) mengkoordinasikan beberapa gerak agar menjadi satu gerak yang utuh dan serasi, (2) efisien dan efektif dalam penggunaan tenaga, (3) untuk menghindari cedera, (4) mempercepat berlatih, menguasai teknik, (5) dapat untuk memperkaya taktik dalam bertanding, (6) kesiapan mental atlet lebih mantap untuk menghadapi pertandingan.
Sajoto, (1988:53) mengatakan koordinasi mata-tangan serta kaki adalah gerakan yang terjadi dari informasi yang diintegrasikan ke dalam gerak anggota badan. Semua gerak harus dapat dikontrol dengan penglihatan dan harus tepat, sesuai dengan aturan yang direncanakan dalam pikiran. Memantul-mantulkan bola, melempar, menendang, dan menghentikannya, semuanya memerlukan sejumlah input yang dapat dilihat, kemudian input tadi diintegrasikan ke dalam gerak motorik, agar hasilnya benar-benar terkoordinir secara rapi dan luwes.
Lebih lanjut Sumosardjono (1990:125) mengatakan fungsi koordinasi mata-tangan adalah:
“Integrasi antara mata sebagai pemegang utama, dan tangan sebagai pemegang fungsi yang melakukan suatu gerakan tertentu, dalam hal ini, kedua mata akan memberitahukan kapan bola berada di suatu titik agar tangan langsung mengayun untuk melakukan pukulan yang tepat”.
Dengan demikian, koordinasi merupakan salah satu unsur yang sangat diperlukan untuk menguasai suatu keterampilan olahraga. Tingkat koordinasi seseorang menentukan terhadap penguasaan suatu keterampilan olahraga, apalagi keterampilan itu tergolong kepada penguasaan teknik keterampilan memukul dalam melakukan smash dalam permainan bolavoli.